Urban Planner : Ilmu, Perspektif, dan Prospektif

Planologi atau Urban Planning saat ini masih menjadi jurusan/program studi yang belum terlalu familiar dan populer di masyarakat. Perlu disadari bahwa lulusan dari disiplin keilmuan tersebut, yaitu Planolog/Urban Planner merupakan keahlian yang sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan wilayah. Urban Planner tidak hanya menjadi leader namun juga advocat, fasilitator, konseptor bagi berjalannya pembangunan yangmultisektor dengan berbagai kepentingan dan kebutuhan.Tapi bagi masyarakat yang mengetahui, disiplin ilmu ini dipandang kurang prospektif, Apakah benar? Pada kesempatan ini, Tim Alumnipedia melakukan wawancara dengan salah seorang alumni Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK-red) Universitas Sebelas Maret, Nindya Ayu Wardhani, tentang eksistensi Urban Planner serta pengalaman non-keilmuannya yang diperoleh diperoleh saat mendalami bidang keahlian Planologi.

Alumnipedia (A) : Hallo Nindya … Apa Kabar? Ngga kerasa sudah lima tahun lulus kuliah. Boleh dong dibagi pengalamannya dari awal memilih PWK sampai dengan pengalaman bekerja?

Nindya (N) : Halloo juga.. Alhamdulillah baik. Boleh banget. Sebenarnya, awalnya berfikir untuk masuk ke PWK karena pada tahun 2007 PWK adalah jurusan baru yang pastinya peluang untuk diterima lebih besar (hehehe). Selebihnya semakin lama berkecimpung di perkuliahan PWK semua hal menjadi sangat menarik dan menyenangkan. Karena kita belajar memahami suatu hal dari berbagai sisi dan pasti membayangkan perkuliahan diisi dengan survey, jalan-jalan, melihat sesuatu yang baru, merencanakan dan merancang sesuatu.

Waktu sekolah di doktrin orang tua harus jadi dokter, tapi sebenernya kepengen bisa jadi desainer atau bekerja di dunia kreatif, menghasilkan barang-barang yang unik. Jadi, dari awal tidak pernah terpikir menggeluti PWK, baru terfikir betapa menyenangkannya dunia “perencanaan” setelah masuk di PWK UNS.

A : Wah begitu ya, sepertinya hal tersebut adalah realita dari mayoritas mahasiswa yang memilih disiplin ilmu PWK ya? Hahaha … Lalu apa yang dibayangkan pertama kali saat diterima di PWK UNS?

N : Ga bayangin apa-apa. Cuma terlintas sedikit soal stigma anak teknik yang susah lulus dan kuliah yang membosankan. Dan ternyata, diawal semester iya. Kuliah sangat membosankan karena berkutat dengan teori, bacaan yang sepertinya harus saya hafal (karena saya tidak begitu suka menghafal). Semakin naik semester kegiatan perkuliahan banyak diisi dengan tugas, kerja tim, survey yang menyenangkan, diskusi-diskusi dengan teman, dosen dan lembur yang capek banget tapi seru, pengalaman luar biasa yang melatih mental, fisik kita buat di dunia kerja. Oiya jangan lupa juga edisi nongkrong lucu di kanopi. Hehehe.

A : Setuju banget, kanopi Gedung II menjadi tempat yang nyaman untuk nongkrong dan jajan. Hehehe … jadi nggak menyesal dong masuk di PWK?

N : ENGGAAAAAAKKK!!! Saya selalu bersyukur masuk PWK karena bisa bertemu dengan dosen, teman yang menyenangkan, ilmu dan pengalaman yang gabisa dilupain. Belajar memahami sesuatu ga cuma dari satu sudut pandang, jadi tidak membuat kita egois dalam berfikir, bekerja dan hidup sosial itu pelajaran berharga yang saya dapat di PWK.

A : Nah, sejak 2011 (lulus) hingga sekarang, pengalaman berharga apa yang Nindya peroleh dengan keilmuan di bidang PWK?

N : Saat pertama lulus dari PWK bayangan pertama saya adalah kerja di konsultan tata ruang, menikmati ngerjain “stuko” (Studio Kota-red) atau “stuwil” (Studio Wilayah-red) tapi dibayar. Hahaha … Dan benar saja, setelah lulus saya menikmati dunia planologi di sebuah konsultan di Magelang. Dan, disitu saya berpikir mungkin tidak bisa lagi se-idealis yang saya bayangkan ketika kuliah, dimana kita bisa menata kota se-perfect mungkin seperti waktu mengerjakan stuko atau stuwil, ilmu planologi menghadapi lebih banyak tantangan dari sekedar yang dibayangkan di kuliah, khusunya birokrasi. Tapi pada dasarnya tetap sama Planologi adalah ilmu memahami kota dari segala sudut pandang keilmuan dan aspek. Planner tetep punya kedudukan yang penting, karena dari otak planner tersusun rencana kerja, perencanaan fisik dan program yang menjadi dasar bagi pemangku kegiatan lain.

A : Untuk implementasi ilmu PWK ternyata banyak tantangan juga ya … saya juga menyadari disaat lulus kuliah adalah studio yang sebenarnya. Karena praktek di lapangan lebih dinamis. Dengan kondisi begitu apakah tetap mantap untuk menggeluti dunia PWK?

N : Dari awal prioritas saya dalam mencari kerja memang yang berhubungan dengan PWK, karena pengennya bisa lanjut sekolah S2 dibidang planologi juga dan lanjut jadi dosen. Jadi pengalaman kerja di konsultan bisa dijadikan bekal dalam mengajar. Sekarang saya bekerja tidak berkaitan dengan “Planologi” , lebih banyak berkutat dengan legal drafting dan ilmu pemerintahan walaupun dulu mendaftar PNS untuk formasi Planologi (Batas Antar Daerah). Saya saat ini diamanahi untuk bertugas di Subdit Fasilitasi Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat. Dari namanya udah ga ada bau-bau planologinya kan ya? Hehehe …

Kerjaan sehari-hari lebih berkaitan dengan ilmu pemerintahan, birokrasi, regulasi dll. Tapi sekali lagi, keuntungan kuliah PWK adalah kita bisa belajar berbagai dasar ilmu. Dimanapun dan apapun pekerjaan kita sedikit ilmu dikuliahan pasti masih ada yang bisa dimanfaatkan, ga ada ilmu yang sia-sia. Seperti ilmu perencanaan kepakai sekali waktu nyusun program tahunan, RKA, RAB. Mata kuliah yang dulu diajar Bu Murtanti soal FGD (lupa nama mata kuliahnya hehe) berguna juga pas kita mau ngadain rapat, gimana bikin materi menarik buat peserta, bagaimana cara menjaring aspirasi yang efektif khususnya untuk penyusunan kebijakan.

A : Wah begitu ya? Tetap bisa mengaplikasikan ilmu-ilmu ketika masih kuliah. Dan setuju, tidak hanya substansi tapi cara berpikir dan metode menyusun atau merumuskan sesuatu melalui berbagai perspektif secara tidak langsung kita pelajari di perkuliahan.

N : Ya. Secara garis besar disiplin ilmu ini Menarik. Kita cukup ambil kuliah PWK tapi secara tidak langsung kita belajar manajemen, sosiologi, psikologi, arsitektur, geologi, geografi, ekonomi, ekonomi pembangunan bahkan legal drafting, ilmu pemerintahan walaupun tidak mendalam namun kita belajar menjadi orang yang melihat suatu masalah atau kejadian dari berbagai sudut pandang, tidak kaku dalam berfikir.

Bermanfaat. Secara lebih fokus ke dasar “perencanaan” kita bisa menjadikan ilmu ini bukan hanya untuk pekerjaan atau penataan kota saja tetapi juga menjalankan kehidupan sehari-hari kita, prinsip perencanaan sangat bermanfaat.

Penting. Kenapa penting, karena ini basic ilmu yang kudu dipunya orang yang mau membangun suatu wilayah, saya rasa setiap pemimpin ga Cuma wajib belajar hukum, ekonomi, ilmu pemerintahan tapi juga planologi.

A : Walaupun pekerjaan sekarang tidak terlalu berkaitan dengan PWK tapi ternyata sense PWK Nindya boleh juga. Hehehe … Lalu apa rencana ke depannya nih?

N : Dulu sebelum kerja di pemerintahan saya tergila-gila dengan perencanaan kawasan khusus seperti wisata dan kawasan cagar budaya. Saya selalu merasa bahwa kawasan seperti itu special dan butuh treatment khusus jadi penuh tantangan dalam pengerjaanya. Rencana kedepan, saya ingin kuliah lagi tapi masih bingung, masih “egois” untuk ambil S2 planologi yang dirasa kurang bisa “klik” sama dunia kerja atau mungkin kebijakan publik atau keduanya. Hehehhe. Selain itu, pengen kuliah bareng suami ke luar negeri mungkin Belanda keliatan asik. Hehehe …

A : Waaah semoga lancar ya rencananya. Kalau untuk disiplin ilmu PWK dan Planner, apa harapan Nindya?

N : Planologi itu LUAS. Sehingga semoga menjadi ilmu yang dikenal dan dipahami sebagai ilmu yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Membayangkan Planner menjadi salah satu cita-cita yang disebutin anak-anak pas ditanya cita-cita mereka selain dokter dan polisi. Hehe …

Jadi planner yang kerja untuk manfaat orang banyak bukan untuk cari uang (sekalipun kita hidup memang butuh uang). Kerja bener, jadi planner yang baik insya Allah rejeki udah ada yang atur.

A : Ada pesan untuk para calon-calon Planner yang saat ini masih kuliah? 😀

N : Tidak ada salahnya mroyek, toh bisa membuka link kita, menambah list pengalaman kerja dan apalagi dapat tambahan uang saku. Tetapi kita harus paham prioritas utama kita adalah kuliah, mengerjakan tugas dan mroyek adalah kerja “sambilan” atau “sampingan”, jangan sampai waktu kita mroyek lebih besar sampai melupakan prioritas kita. Pinter-pinter bagi waktu saja, karena perkuliahan dan tuga di PWK sudah sangat menyita waktu.

Jadiin kebiasaan untuk melakukan studi kasus. Diskusi. Ngobrol. Jalan-jalan. Karena masalah “ke-PWK-an” bisa kita temuin dimana saja.

Ingat pepatah ilmu akan semakin banyak kalau dibagi, akan semakin sempit kalau disimpan sendiri, Kunci dari sukses kuliah di PWK adalah banyak sharing dengan teman, dosen. Bangun kerja tim yang baik karena di PWK banyak kerja tim, semakin mudah kita bekerjasama makin memudahkan pekerjaan kita di perkuliahan. Jangan bosen baca, karena ilmu PWK ga bakalan habis dipelajari baik praktisnya maupun teorinya (saya mengaku yang tidak begitu banyak membaca dan sedikit menyesal karena itu hehehe).

Dan jangan lupa, rajin cari informasi. Terus update ilmu diri ga harus ilmu planologi karena kita tidak pernah tau rejeki kita kedepan bagaimana.

A : Makasih banget ya diskusinya. Ternyata kuliah di PWK itu juga salah satu kunci untuk menjadi pembuka pintu kita tentang apa yang bisa kita kontribusikan kepada masyarakat. Tidak ada yang sia-sia asal sungguh-sungguh … Okee … Terima kasih ya Nin buat waktunya. Sukses buat karir Nindya kedepannya…

N : Aamiin … Sama-sama

Nah, demikian sedikit wawancara kami dengan Nindya. Ternyata pilihan untuk menempuh bidang keahlian Urban Planner tidak hanya memberikan benefit dari sisi ilmu merencanakan saja, tapi mempelajari perspektif yang dapat kita aplikasikan juga untuk kehidupan sehari-hari. Dari perbincangan tersebut, Nindya memulai untuk “menerima” “doktrin” ilmu PWK dengan tanpa bayangan prospek ke depan seperti apa, namun selama menjalani hingga saat ini tidak ada kekhawatiran dan keraguan dari Nindya untuk tetap berkarya di bidang PWK. Walaupun saat ini keilmuan tersebut tidak begitu diaplikasikan, namun perspective dan sense of urban planner untuk membantu memecahkan persoalan dari berbagai sudut pandang sangat bermanfaat dalam dunia kerjanya. Apa yang sudah dicapai Nindya tentu adalah hal luar biasa, dan cukup menjadi bukti bahwa penerimaan terhadap Urban Planner entah di dunia praktisi maupun birokrasi memiliki porsi tersendiri. Di dunia planologi Urban Planner juga memiliki ajangnya sendiri untuk berkontribusi, terbukti dengan tingginya kebutuhan tenaga ahli di bidang PWK untuk terlibat dalam kegiatan pembangunan, so, porsinya ngga ada yang gantiin..*narsis dikit. Di dunia di luar PWK, ilmu ini juga tetap kita bawa, karena tujuan dari Planologi adalah meng-create, me-manage, kondisi yang lebih baik dengan metode-metode yang secara tidak sadar menjadi dasar berpikir kita untuk mengelola persoalan. So, prospektiflah! Tinggal kitalah yang menentukan atas apa yang hendak kita jalan. Konsisten dan yakin apa yang kita pelajari banyak manfaatnya … yak kan? 😀 Sukses ya alumni !

BIODATA

Nindya

Nama Lengkap : Nindya Ayu Wardani

Tempat/Tanggal Lahir : Surakarta/9 Oktober 1988

Alamat Asal : Karangasem RT 04/ RW 01, Laweyan, Surakarta

Domisili : Jalan Rawamangun Utara Gang 3, RT 01/ RW 11, Jakarta Pusat

Hobi : Jajan

Riwayat Pendidikan : S1 Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Sebelas Maret Angkatan 2007

Riwayat Pekerjaan :

  1. Asisten Tenaga Ahli Planologi CV. Wisanggeni Malang (2011-2014)
  2. Analis Batas Antar Daerah, Direktorat Wilayah dan Perbatasan, Kementerian Dalam Negeri (Februari 2014 – Maret 2015)
  3. Pengelola Data dan Laporan Subdit Fasilitasi Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat, Direktorat Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan dan Kerjasama, Kementerian Dalam Negeri (Maret 2015 – Sekarang)

Riwayat Organisasi :

  1. Sekretaris IKA PERWITA UNS

Wanna get more informations? Contact her by email on niend_h2k@yahoo.com.

Advertisements